Author: Ahmad Dahlan

  • Menghitung Groos Tonnage – GT Kapal

    Gross Tonnage (GT/isi kotor) kapal berdasarkan International Convention on Tonnage Measurement of Ships 1969 (Konvensi Internasional Tentang Pengukuran Kapal 1969) yang telah diratifikasi dengan Keppres No. 5 Tahun 1989 tentang Pengesahan International Convention on Tonnage Measurement of Ships 1969, adalah ukuran besarnya kapal secara keseluruhan dengan memperhitungan jumlah isi semua ruangan-ruangan tertutup baik yang terdapat di atas geladak maupun di bawah geladak ukur.

    Berdasarkan Keputusan Peraturan Pengukuran Kapal 1927 (Sceepmentings Ordonantie 1927) Pasal 32 Ayat (2) disebutkan bahwa ukuran isi kapal atau kendaraan air adalah dalam meter kubik (m3) dan dalam ton-register (Register Ton/RT). Jumlah ton-register didapat dengan cara mengalikan jumlah meter kubik dengan bilangan 0,353. Dengan demikian bilangan 0,353 merupakan nilai konversi dari meter kubik ke ton-register. Bilangan ini diperoleh berdasarkan ukuran satuan kaki (feet) Inggris, dimana:

    Satu feet = 30,479 cm

    Satu feet kubik = 0,02831405 m3

    100 feet kubik = 2,831405 m3

    Satu meter kubik = 0,353 RT (Register Ton)

    Sebagaimana yang tertera dalam Keputusan DIRJEN PERLA No. PY.67/1/13-90 tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri Perhubungan (Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 41 Tahun 1990 tentang Pengukuran Kapal-kapal Indonesia), pada BAB 1 Pasal 1 disebutkan bahwa cara pengukuran kapal di Indonesia adalah sebagai berikut :

    a. Cara pengukuran Internasional ditetapkan terhadap kapal berukuran panjang 24 (dua puluh empat) meter atau lebih;

    b. Cara pengukuran dalam Negeri ditetapkan terhadap kapal berukuran panjang kurang dari 24(dua puluh empat) meter.

    Penentuan GT kapal menurut cara pengukuran dalam negeri, dihitung sesuai dengan ketentuan Pasal 26 dan 27 dalam Keputusan DIRJEN PERLA No. PY.67/1/13-90.

    Berdasarkan cara pengukuran dalam negeri, GT kapal diperoleh dan ditentukan sesuai dengan rumus sebagai berikut:

    GT = 0,353 x V

    dimana:

    V : adalah jumlah isi dari ruangan di bawah geladak atas ditambah dengan ruangan-ruangan di atas geladak atas yang tertutup sempurna yang berukuran tidak kurang dari 1 m3.

    Nilai 0,353 sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya adalah merupakan nilai konversi dari satuan meter kubik ke ton register. Oleh karena itu, penggunaan rumus yang demikian ini mengakibatkan ukuran isi kapal dinyatakan dalam satuan ton register.

    Dalam pengukuran volume berdasarkan cara pengukuran dalam negeri, isi ruangan di atas geladak adalah hasil perkalian majemuk dari ukuran panjang rata-rata, lebar rata-rata dan tinggi rata-rata suatu ruangan. Sementara itu isi ruangan di bawah geladak adalah perkalian majemuk dari:

    Isi/volume ruangan = L x B x D x f

    dimana:

    L : panjang kapal, yang diukur mulai dari geladak yang terdapat di belakang linggi haluansampai geladak yang terdapat di depan linggi buritan secara mendatar.

    B : lebar kapal, adalah jarak mendatar diukur antara kedua sisi luar kulit lambung kapal pada tempat yang terbesar, tidak termasuk pisang-pisang.

    D : dalam kapal, adalah jarak tegak lurus di tempat yang terlebar, diukur dari sisi bawah gading dasar sampai sisi bawah geladak atau sampai pada ketinggian garis khayal melintang melalui sisi atas dari lambung tetap.

    Faktor “f”, dalam istilah naval architect disebut juga sebagai koefisien kegemukan kapal atau koefisien balok (coefficient of block, Cb). Nilai Cb menunjukkan nilai rasio antara volume displasemen kapal dengan perkalian antara panjang (L), lebar (B) dan dalam (D) kapal. Nilai Cb semakin mendekati angka 1 (satu) menunjukkan bahwa kapal tersebut hampir berbentuk balok. Contoh nilai Cb mendekati angka 1 adalah kapal tongkang.

    Pada tanggal 17 Mei 2002, telah ditetapkan Keputusan Dirjen PERLA No. PY.67/1/16-02 yang berisikan tentang adanya perubahan rumus dalam menghitung GT sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keputusan Dirjen PERLA No. PY.67/1/13-90 (Pasal 26).

    Rumus GT kapal yang sebelumnya adalah hasil perkalian antara 0,353 dengan V berubah menjadi:

    GT = 0,25 x V

    Tonage (tonase), adalah sebuah harga yang didapat dengan menghitung sesuai

    peraturan dan cara tertentu yang dapat dianggap menunjukkan internal capacity suatu

    kapal, yaitu banyaknya ruangan didalam kapal yang dapat memberikan keuntungan.

    Terdapat dua macam register tonage, yaitu Brt (bruto register tonage), dan Nrt (netto

    register tonage)

    – Cb = coefisient block adalah perbandingan antara volume badan kapal di bawah air

    dengan volume kotak yang dibatasi oleh panjang (l), lebar (b) dan sarat air (d)

    yang sama. RumusCb = volume displacement (l x b x d)

    – Batasan coefisient block :

    kapal barang (general cargo) = 0,65 – 0,75

    kapal cepat (fast boat) = 0,35 – 0,50

    kapal tanker = 0,75 – 0,80

    barge (tongkang) = 0,80 – 0,95

    tug boat (kapal tunda) = 0,65 – 0,70

    – Displacement adalah jumlah air dalam ton yang dipindahkan oleh kapal terapung,

    atau gaya tekan keatas oleh air terhadap kapal yang besarnya sama dengan berat

    zat cair yang dipindahkan atau sama dengan volume badan kapal yang tercelup

    dikalikan dengan berat jenis air laut (BD air laut = 1,025).

    Rumus, Displacement = volume x BD air laut = l x b x t x cb x bd

    – Dead weight ( Dwt ) atau bobot mati adalah gabungan berat dalam ton untuk

    berat muatan, bahan bakar, minyak pelumas, air tawar, bahan makanan dan

    minuman, awak kapal, penumpang dan barang bawaan.

    Rumus, Dwt Displacement – Lwt

    – Light weight (lwt) atau berat kapal kosong adalah berat badan kapal,bangunan atas,

    peralatan/perlengkapan kapal, permesinan kapal dan lain-lain

    Rumus, Lwt Displacement-Dwt

    – Berat muatan ( PB ) hasil perhitungan berat muatan yang secara kasar tersebut akan

    dibandingkan dengan berat muatan yang tercantum dalam manifest kapal, dari

    perbandingan tersebut petugas dapat memperkirakan kemungkinan ada/tidak nya

    kelebihan atau pelanggaran. Rumus, PB Dwt-Lwt

    Bobot Mati Kapal Dalam Ton, Sarat Kapal Dalam Kaki (FT), Sarat Kapal dalam Desimeter

    10.000                                                 26                                           79

    20.000                                                  30                                           91

    50.000                                                 38                                            115

    100.000                                               48                                           146

    200.000                                               60                                           183

    300.000                                               72                                            219

    500.000                                               90                                           274

  • Jurnal Mancing – Beburu Tuna Sirip Kuning di Trip Mancing Spot Taka Bakkang Perairan Selat Makassar Mei 2024

    Jurnal Mancing – Beburu Tuna Sirip Kuning di Trip Mancing Spot Taka Bakkang Perairan Selat Makassar Mei 2024

    Berikut ini laporan hasil dari trip mancing Spot Taka Bakkang Mei 2024. Trip ini dilaksanakan atas koordinasi yang luar biasa dari CEO Toko Pancing Hajji Lolo Makassar dan Pemilik Kapal Hiburan Laut 3.

    Trip Mancing Taka Bakkang

    A. Log Perjalanan

    Trip dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Mei 2024. Log kegiatan sebagai berikut :

    1. 10 Mei 2024 – 23.00 : Angkat Jangkar Paotere Makassar
    2. 11 Mei 2024 – 07.00 : Jangkar Terpasang Spot Taka Bakkang
    3. 08.00 : Strike Pertama Red Bass ukuran Up To 10 Kg (Lutjanus argentimaculatus). Teknik Dasaran Ikan Layang
    4. 09.00 : Strike Pertama Tuna Dog Tooth up to 8 kg. Teknik Dasaran umpan Ikan Layang
    5. 14.00 : Pukul Awal Frenzy
    6. 16.00 : Line Out Pertama dan Belum ada Ikan Target yang Landed
    7. 17.00 : YFT Pertama Landed Up To 12 Kg.
    8. 18.00, 11 Mei 2024 – 02, 12 Mei 2024 : Frenzy Time, ikan Landed (15 Ekor Tuna Gigi Anjing, banyak TUNA YFT yang tidak bisa Landed karena perlawanan sangat kuat. 4 Jorang Patah)
    9. 12 Mei 2024 – 04.00 : JackPot Tuna YFT Up To 30 Kg Landed dan menjadi ikan Tuna terakhir yang naik ke kapal.

    Trip kali ini terbilang cukup bar-bar dimana banyak katrol sekelas Stradic, Stella, Saltiga, Saltis dan Beberapa Jenis Seperti Maguro Deep X tidak berkutik melawan tarikan ikan yang terus menerus sejak pulul 6 Sore hingga subuh hari. Terhotung sekitar 22 Tarikan Monster Taka Bakkang yang tidak berhasil ditarik naik karena putus, LO dan Mata Pancing Bengkang

    Total 4 Jorang patah, 1 Reel Line Out dan satu Reel Maguro Deep X terjun bebas setelah Joran Patah menahan tarikan Ikan.

    B. Dokumenasi Ikan

    Bambangan Rappo Rappo Ikan Kakap merah Laut Dalam Taka Bakkang
    1. Jenis Ikan : Kakap Merah Selar (Bambangan Rappo-Rappo)
    2. Size : 1,5 Kg
    Tinador atau Red Bass Selat Makassar
    1. Jenis Ikan : Red Bass (Tinador)
    2. Size : 10 Kg
    Ikan Tuna Gigi Anjing Dog Tooth Spot Mancing Taka Bakkang Sulawesi Selatan
    1. Jenis Ikan : Tuna Gigi Anjing
    2. Jacpot Size : 15 Kg
    Ikan Tuna YFT
    1. Jenis Ikan : Tuna Sirip Kuning
    2. Jacpot Size : 12 Kg
    Jackpot mancing Hiburan Laut Taka Bakkang Tuna Sirip Kuning YFT
    1. Jenis Ikan : Tuna Sirip Kuning
    2. Jacpot Size : 30 Kg
    1. Tuna Sirip Kuning Numpang Dokumentasi Saja
    2. Banyak Foto ikan yang tidak didokumentasikan

    C. Special Thank and Crew

    1. EO : Dedi Ajji Lolo, Dahlan, Amin, Ilham dan Iccank
    2. Kapten Kapal : Rama Balang Lompo
    3. ABK : Dg Kadir
    4. Spesial Thanks : Hajji Lolo Fishing Club dan Muchtar HA (Hajji Utta: Pemilik Kapal HL 3)
  • Teknik Mancing Kakap Merah – Bambangan

    Teknik Mancing Kakap Merah – Bambangan

    Mancing Kakap Merah adalah salah satu hal yang paling menyenangkan bagi para Angler. Selain dari sensasi tarikan ikan yang ganas, daging Kakap Merah juga sangat manis. Bisa dikatakan Ikan Kakap Merah adalah primadonanya ikan kakap.

    Mancing Kakap Merah

    Kakap Merah yang dikenal para pemancing Indonesia terdiri dari 4 jenis. Jenis kakap merah tersebut adalah :

    1. Lutjanus malabaricus (Bambangan)
    2. Lutjanus bitaeniatus (Kakap Merah Pesisir)
    3. Lutjanus erythroperus (Geroga Gigi)
    4. Lutjanus sebae (Kakap Gajah)

    Ke empat jenis kakap ini tersebar mulai dari pesisir dengan kedalam 5 meter untuk Lutjanus bitaeniatus sampai pada kedalam 70 m untuk Kakap Gajah.

    Spot Ikan Kakap Merah

    Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, Ikan Kakap bisa ditemukan mulai dari kedalaman 5 meter hingga 70 meter. Ikan ini banyak mendiami lokasi berupa

    1. Tandes
    2. Karang
    3. Rumpon

    Posisinya adalah predator paling atas di lokasi rumponnya. Lokasi Ikan kakap bisa ditemukan dengan alat Depfth Sounder Warna. Tipikal lokasinya berupa lumpur dengan struktur karang. Pada layar Fish Finder biasanya campuran warna merah, kuning, hijau dan biru.

    Pengalaman mancing Kakap, selaku penulis yang hobi mancing dan tinggal di Sulwesi Selatan, Sebagai berikut.

    1. Spot Pulau Balang Lomnpo

    Kakap Merah Hasil pancing

    Lokasi pertama yang paling sering adalah sekitar pulai Balang Lompo, Kab. Pangkep Sulawesi Selatan. Ikan Bambangan tidak pernah absen di Trip. Jenis umpan yang digunakan Udang ebi. Di makassar, udang ini disebiut Pattodo dan dijual dengan harga Rp. 10.000,- satu Mika.

    2. Spot Pulau Lankadea

    Ikan Kakap Merah Pankep

    Spot Palau Langkadea. Pulau berdekatan dengan pulau Balang. Terdapat sebuah Rumpon Cumi-cumi yang ditenggelam warga sekitar dan kita bisa mancing di sana. Ke dalamnya mencapai 15 sampai 20 meter. Spot ini banyak dihuni Ikan Kakap Merah dengan ukuran mencapai 4 kg. Paling tidak itu pengalaman Pribadi.

    3. Spot Batu-Batu Galesong

    Ikan Kakap Merah Spot Batu Batu Galesong

    Spor Galesong batu-Batu bisa dibilang uni. Kedalamnya tidak sampai 5 meter dan posisi dekat dengan pesisir pantai. Meskipun ikan bambangan yang naik ukurannya kecil (kurang dari 1 kg) tapi jumlah selalu lebih dari 1.

    4. Spot Bakkie, Pare-Pare

    Lutjanus bitaeniatus Kakap Merah Tompel Bambangan Rappo RAppo

    Spot Bakkie, Pare-Pare bisa dibilang sarang Ikan Bambangan Rappo-Rappo. Ikan ini berukuran sedang namun pengalaman teman ada yang sampai 15 kg. Saya sendiri masih ukuran sekitar 1 sampai 3 kg. Tapi jumlah ikannya juga selalu banyak.

    Mancing Kakap Merah

    Bagaimana mancing kakap Merah? Yah pastikan ada ikan kakap merah di Spot tersebut. Mau senior sekalipun kalau di sana tidak ada kakap merah yah gak bisa dipancing. Untuk sharing pengalaman sebagai berikut.

    1. Pastikan anda sudah menguasai teknik pancing dasaran (Bottom Fishing)(
    2. Pastikan spot mancing berupa Rumpon, Tandes, Karang, Kapal tenggelam atau apaun yang bisa menjadi rumah kakap merah.
    3. Kaidah kedua adalah saat kapal berjalan sebaiknya anda tetap menghidupkan depth sounder maupun GPS. Fungsinya adalah ketika kapal melintasi lokasi-lokasi kakap yang ditunjukkan oleh depth sounder maka kita bisa langsung merekamnya dalam memori GPS.
    4. Kaidah ketiga, jika ciri-ciri tandes, karang, rumpon atau kapal tenggelam terekam dalam fish finder segera lakukan perekaman koordinat dalam GPS. Setelah itu, pastikan dan periksa lokasi tersebut dengan cara kapal memutar dan mendeteksi sekali lagi.
    5. Kaidah keempat, setelah lokasi yang menjadi ciri ikan kakap berada ditemukan selanjutnya adalah anda harus menyiapkan plontang utama dan anak plontang. Masing-masing plontang sebaiknya dilengkapi dengan bendera sebagai penunjuk arah angin.
    6. Setelah pelontang disiapkan dengan tali sesuai kedalaman, suruhlah kru kapal untuk bersiap melemparkan plontang ketika kapal melintas tepat diatas lokasi yang kita temukan.
      Kaidah kelima, adalah melabuh jangkar. Dalam hal melabuh jangkar kapten kapal harus berpedoman pada plontang. Plontang utama akan tersambung pada anak plontang menunjukkan arah arus.
    7. Dimana arah arus selalu menuju dari plontang utama ke anak plontang. Jadi dalam hal melabuh jangkar, kapal harus lurus berada didepan plontang utama. Untuk jarak dekat dan jauh labuh jangkar harus disesuaikan dengan arus. Semakin arusnya kencang maka labuh jangkar harus agak jauh.
    8. Pertimbangannya adalah umpan harus tepat jatuh dilokasi tandes, rumpon atau kapal tenggelam. Jika umpan jatuhnya terlalu kejauhan atau kependekkan, maka ikan tidak mudah kita dapatkan.
      Nah, jika semua kaidah dijalankan dengan benar, peluang keberhasilan mendapatkan ikan kakap merah besar akan terwujud.
  • Jenis Ikan Target Mancing Pasiran – Sirf Fishing

    Ikan Target Mancing Pasiran

    Berikut jenis-jenis ikan yang bisa didapatkan ketika memancing di pantai atau pasiran (surf-fishing). Beberapa ikan karang juga kadang berada di wilayah pantai pasir untuk mancari makan berupa udang, ikan-ikan kecil, crustacea, dan lain-lain. Sementara ini yang bisa kita ulas dari berbagai sumber yang ada, macam-macam ikan target pasiran :

    Senangin/Laosan

    Kalau di DIY, ikan ini biasa disebut ikan surung, ikan yang biasanya memangsa udang-udang kecil, cacing laut, dan crustacea kecil. Biasanya ada di sekitaran 10 hingga 15 meter dari bibir pantai, namun tergantung situasi pantai dan bentuk garis pantai. Untuk yang ukuran dewasa biasanya lebih mendekat ke perairan yang sedikit dalam untuk mencari makan. Kalau di Jepang dan sekitarnya ada sejenis selangin juga yang disebut ikan kuro, satu famili namun beda jenis. Para pemancing pasiran biasanya menggunakan potongan udang kecil untuk menangkap ikan ini.

    Senangin atau surung ini jika dilihat sekilas hampir menyerupai ikan bandeng, hanya yang membedakan bentuk mulut dan sirip, serta memiliki beberapa rambut/kumi/sungut dibawah mulutnya. Dan ikan ini biasanya bergerak diombak yang cukup beriak.

    Bojor (sand whiting)

    Atau sand whiting, merupakan ikan penghuni pantai berpasir yang biasa aktif apapun kondisi pantainya. Dan ini adalah ikan yang biasa bergerombol atau dengan kata lain schooling fish. Biasa memakan pecahan crustacea, dan juga udang atau potongan-potongan udang kecil untuk yang ukuran sekitar 2 sampai 5 ons. Untuk yang ukuran sekilo lebih jarang ditemui, mungkin karena dari kecil udah kena pancing kali yaa.. ? hahaha..

    Sering diburu oleh para pemancing pasiran dengan tekhnik rangkaian renteng, karena kebiasaannya yang sering bergerombol di tepian pantai. Dan ikan ini tidak mengenal musim, maka dari itu sebagai target cadangan jika ikan-ikan monster sedang sepi. Dagingnya pun cukup lezat jika diolah menjadi masakan.

    · Megan (small spotted dart)

    ikan megan
    Nama kerennya Fish-Dart/dart fish, swallow tail-dart, atau fish tail dart. Kadang disebut juga spotted dart fish atau small spotted dart yang sebenarnya lebih sering bergerombol atau schooling di wilayah karang dalam. Dengan ukuran bervariasi dari 20cm hingga 60 cm. Untuk yang ukuran dewasa biasa mencari makan di area karang dalam lautan dengan cara bergerombol. Sebagai catatan, salah seorang pemancing lawas dan warga dari pesisir selatan mengungkapkan bahwa jika belum musim ikan megan, namun ada yang mendapatkan ikan ini berarti pertanda bahwa kondisi air sedang kurang bagus untuk memancing. Sepertinya memang ada benarnya juga, disini penulis juga sempat membuktikan setelah hooked up dan landed megan seukuran tapak kaki orang dewasa di hari berikutnya segala jenis ikan pantai/pasir tidak ada yang landed satu pun.

    · Ikan tanda-tanda

    ikan tanda-tanda
    Biasa sering disebut ikan tanda-tanda, yang besarnya bisa mencapai 2-5 kg lebih. Yang menepi biasa tidak lebih dari 1 kg, biasa mencari makan udang atau crustacean di tepian pantai. Sering juga ditemui dikawasan perairan payau dan muara. Ikan ini juga menjadi favorit para penggemar casting di muara sungai dan mangrove. Namun ikan yang satu ini jarang menjadi target utama para pemancing dan pencari monster, karena dari ukuran dan tingkat agresifnya yang dirasa kurang tangguh.

    · Kakap timun

    ikan
    Ikan dengan variasi sisik kuning putih ini jarang ditemui ketika air keruh, tapi lebih banyak berada di wilayah pantai yang dekat dengan terumbu karang. Ikan yang variasi ukurannya sama seperti ikan tombol ini lebih suka pada perairan dangkal dengan air jernih.

    · Ikan Kerang-kerong

    crescent perch/terongan
    Ikan dengan nama lain terapon jarbua ini, Penduduk atau pemancing lokal sering menyebut terongan atau kerang-kerong. Lebih sering tertangkap pemancing dan nelayan dengan ukuran mulai dari 200 gram hingga 1 kg. Ikan ini sering berada di perairan dangkal atau pantai dan sering juga di muara-muara dan sungai yang berair payau. Mereka memakan segala jenis crustacea dan udang, hingga sisa-sisa ikan mati di permukaan dan di dalam air. Para mania pasiran juga sering mendapatkan ikan ini dalam ukuran tidak lebih dari 500 gram. Ikan ini memang tergolong kecil penghuni karang dan perairan pasir dangkal/pantai hingga muara sungai. Dalam bahasa internasional sering disebut crescent bass/crescent perch.

    · Ikan Bekukon

    ikan bekukon/bekuku
    Ikan ini banyak sekali sebutannya, bekuku, bekukon, dan lain-lain. Ikan yang sebutan internasionalnya sea-bream-fish ini sering tertangkap para pemancing di wilayah pantai dengan ukuran 100 gram hingga 1 kg. Biasa menghuni perairan dangkal di pantai dan muara. Untuk ukuran 3kg keatas biasa ada di laut dalam dengan banyak terumbu. Ikan ini juga sering hooked-up jika kamu hobi memancing malam hari di pantai/pasiran.

    · Ikan Kuwe

    landed beberapa Giant Trevally dan gatho/permit
    Beberapa spesies ikan kuwe ini sering sekali hooked-up di wilayah perairan pantai, ketika air tebal (menjelang pasang naik dan menjelang surut). Ikan yang menjadi favorit para penghobi pasiran ini sebenarnya juga bergerombol ketika berburu mangsa. Makanya ketika seorang angler strike dan landed ikan kuwe bisa dipastikan pemancing yang lain akan mendapatkan hal yang sama. Dan banyak macam ikan kuwe yang bisa didapatkan dari memancing di wilayah pantai.

    § Permit/Gatho

    gatho/pompano 7kg up
    Jenis ikan kuwe yang satu ini menjadi favorit pecinta pasiran, mereka biasa menyebut ikan Gatho. Bahasa kerennya sih pompano alias permit. Ikan ini biasa berkeliaran di wilayah pantai ketika air jernih dan tebal, dengan cara bergerombol dengan ukuran yang cukup bervariasi. Ukuran yang biasa landed sekitar 1 kg hingga 6 kg. Ukuran besar dari 10 kg hingga 25kg bisa juga hooked up ketika air benar-benar jernih dan dalam/tebal. Ikan ini lebih sering memakan crustacea dan ikan-ikan kecil di wilayah perairan pantai.

    Dan bagi beberapa pemancing, ikan ini terkenal manja, karena jika senar/main-line terlalu tebal katanya susah untuk strike spesies yang satu ini. Umpan paling ideal untuk target ikan gatho adalah undur-undur laut/sand-crab(emerita). Dan untuk mendapatkan ikan gatho kondisi air laut harus jernih dan cukup dalam, makanya harus memancing di suangan /lebeng /cekungan di wilayah pantai. Dan jangan lupa gatho lebih agresif ketika matahari terbit(pagi-siang-sore) atau malam ketika sinar bulan cukup terang.

    § Giant Trevally

    caru/GT pasiran wedi ombo
    Atau sering disingkat GT ini, penduduk lokal di DIY biasa menyebut ikan caru atau kadang pok’an. Ikan yang juga sering bergerombol ketika mencari mangsa atau imigrasi ke suatu perairan. Ikan ini memakan ikan-ikan kecil, crustacea, cumi-cumi, dan pecahan/remukan ikan mati yang terhampar di perairan karang dan pantai. Juga merupakan salah satu favorit para penggila surf-fishing. Ukurannya pun bermacam-macam mulai dari 500 gram hingga 30kg. Dan tidak terpengaruh kondisi keruhnya air. Tapi lebih bagus ketika air cukup jernih. Malam hari pun ikan ini juga sering aktif mencari makan.
    Untuk tingkat agresif, jangan ditanya lagi, ikan ini sangat agresif dan perenang cepat. Cukup tangguh perlawanannya ketika hooked-up, dan inilah alasannya mengapa para surfer alias pecinta pasiran pasti berharap strike giant-trevally. Dan untuk umpan ideal jika memburu caru ini adalah ikan kecil dan ikan yang masih hidup atau segar. Seperti ikan bojor, anakan kating/lundu, dan ikan gabus(snake-head).

    · Samangati/ Croaker

    belanger croaker/samangati
    Hampir famili dengan kakap/snapper tapi famili sangat jauh, hahaha soalnya bentuknya dan ciri fisiknya banyak berbeda dengan kakap yang lainnya, anggap aja ini keluarga croaker hehe. Ikan ini memakan crustacea hingga udang bahkan juga ikan kecil. Untuk ukuran monster ikan ini sering disebut langon/ikan langon bagi penduduk sekitar pesisir selatan jawa. Ikan langon sering menjadi target para pemancing dan nelayan lokal. Ikan yang bisa mencapai lebih dari 10 kg ini merupakan ikan musiman. Jadi ketika berharap ikan samangati biasanya menunggu hingga mulai musimnya. Tapi disini sering membingungkan kenapa nama nya bisa beda sesuai ukuran? Entahlah, yang jelas ikan ini enak lho hehe..

    hammer croaker

    soldier croaker
    Untuk nama ilmiah ikan ini bervariasi sesuai ukuran dewasa, ada belanger croaker, soldier croaker, white croaker, smooth croaker, blackmouth croaker, tigertooth croaker dan yang paling besar mencapai ukuran 150 cm adalah black-spotted croaker.

    · Ikan Pari (Dasyatidae)

    pari mutiara
    Ikan pari atau stingray sangat tidak asing di telinga para pemancing khususnya pendekar pasiran. Ikan ini bervariasi sesuai habitatnya. Beberapa ikan pari atau ikan Pe atau Peh (penduduk lokal menyebutnya) yang bisa didapatkan ketika memancing dengan teknik surf-fishing.

    pari mondol
    Tapi hati-hati jika mendapatkan ikan yang satu ini, karena memiliki senjata di ekornya. Ikan dengan puluhan jenis ini kadang kita langsung menyebut ikan pari atau dalam bahasa jawa iwak pe . Puluhan hingga ratusan jenis ikan pari di seluruh dunia, tapi hanya beberapa yang mendiami lautan selatan jawa. Ikan ini sering mencari makan disekitaran dasaran pasir pantai untuk yang ukuran kecil hingga medium.

    pari macan
    · Lundu/keting (Mystus)

    keting/luthok 4,5 kg up pantai pelangi depok
    Ikan ini sering disebut keting atau kating, di wilayah timur DIY nelayan lokal sering menyebut keting, namun diwilayah barat sering disebut luthok untuk ukuran 500 gram ke atas. Ikan ini memiliki senjata yang menyatu dengan sirip punggung dan samping.
    Ikan pemangsa segala ini sangat mudah dipancing ketika air kasar dan sedikit keruh. Untuk ukuran kecil biasa menghuni sungai atau muara yang dekat dengan laut. Dan luthok atau keting ini banyak sekali kelasnya/jenisnya, ada yang sampai ke perairan tawar ada pula yang hidup di payau. Untuk mendapatkan ikan ini cukup lebih sederhana daripada ikan penghuni pantai lainnya apalagi waktu malam dan air cukup tebal. Luthok adalah spesies yang banyak diminati oleh pemancing pasiran ketika ikan lain cukup susah didapat.
    Untuk memburu ikan ini lebih ideal ketika malam hari, karena ikan ini termasuk hewan nokturnal.

    · Hiu Bambu Cokelat (Brownbanded Bamboo shark)

    butonogo (brownbanded bamboo shark)
    Adalah spesies yang tergolong masih baru saja diidentifikasi oleh ilmuwan-ilmuwan bahwa ikan ini penghuni asli perairan Indonesia. Ikan ini memakan segala jenis invertebrata dan crustacea. Untuk wilayah selatan DIY biasa disebut butonogo. Ikan ini berenang merayap di antara terumbu dan pasir laut dangkal hingga pantai. Ada beberapa macam jenis ikan ini seperti cat bamboo shark, lizard lasy shark fish, dan lain-lain. Ikan ini maksimal panjang hingga 80 cm. Dan ketika kamu me-target ikan ini ketika memancing, jangan banyak berharap karena ikan ini sangat susah terkena kail kalau menurut cerita para surfer.

  • Pengaruh Pasang Surut Air Laut Terhadap Aktifitas Ikan

    Pengaruh Pasang Surut Terhadap Perikanan

    A. Pengertian Pasang Surut

    Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Pasang surut yang terjadi di bumi ada tiga jenis yaitu: pasang surut atmosfer (atmospheric tide), pasang surut laut (oceanic tide) dan pasang surut bumi padat (tide of the solid earth). Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan ( bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari

    Pasang surut adalah gerakan naik turunnya permukaan laut secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Matahari mempunyai massa 27 juta kali lebih besar dari massa bulan, tetapi jaraknya pun sangat jauh dari bumi (rata-rata 149,6 juta km). Sedangkan bulan, sebagai satelit kecil, jaraknya sangat dekat ke bumi (rata-rata 381.160 km). (Nontji, 2005).

    Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. (Dronkers, 1964).

    B. Tipe-Tipe Pasang Surut

    Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Disuatu daerah pada dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Menurut Wyrtki (1961), pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 yaitu :

    1. Pasang surut harian ganda ( semi diurnal tide). Dalam sehari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut secara berurutan. Periode pasang surut rata-rata 12 jam 24 menit. Pasang surut jenis ini terdapat di selat malaka sampai laut andaman.
    2. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide). Dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pasang surut tipe ini terjadi di perairan selat karimata.
    3. Pasang surut campuran condong keharian ganda.(mixed tide prevailing semidiurnal). Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi periodenya berbeda. Pasang surut jenis ini banyak terdapat perairan indonesia timur.
    4. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal). Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Pasang surut jenis in biasa terdapat di daerah selat kalimantan dan pantai utara jawa barat

    C. Pengaruh Pasang Surut Terhadap Perikanan

    Terjadinya pasang surut memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan. Misalnya Gerakan air vertikal yang berhubungan dengan naik dan turunnya pasang surut, diiringi oleh gerakan air horizontal yang disebut dengan arus pasang surut. Permukaan air laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga terjadi pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut (Tidal current). Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya kedalaman.

    Arus yang terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa air mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang disebabkan oleh pasut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan teluk yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb. Pada waktu gelombang pasut merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau teluk, maka badan air kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan lepas.

    Pada daerah-daerah di mana arus pasang surut cukup kuat, tarikan gesekan pada dasar laut menghasilkan potongan arus vertikal, dan resultan turbulensi menyebabkan bercampurnya lapisan air bawah secara vertikal. Pada daerah lain, di mana arus pasang surut lebih lemah, pencampuran sedikit terjadi, dengan demikian stratifikasi (lapisan-lapisan air dengan kepadatan berbeda) dapat terjadi. Perbatasan antar daerah-daerah kontras dari perairan yang bercampur dan terstratifikasi seringkali secara jelas didefinisikan, sehingga terdapat perbedaan lateral yang ditandai dalam kepadatan air pada

    setiap sisi batas.Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter. Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah/wetlands. Pengaruh pasang-surut terhadap organisme dan komunitas zona intertidal paling jelas adalah kondisi yang menyebabkan daerah intertidal terkena udara terbuka secara periodik dengan kisaran parameter fisik yang cukup lebar. Organisme intertidal perlu kemampuan adaptasi agar dapat menempati daerah ini. Faktor-faktor fisik pada keadaan ekstrem dimana organisme masih dapat menempati perairan, akan menjadi pembatas atau dapat mematikan jika air sebagai isolasi dihilangkan.
    Kombinasi antara pasang-surut dan waktu dapat menimbulkan dua akibat langsung yang nyata pada kehadiran dan organisasi komunitas intertidal. Pertama, perbedaan waktu relatif antara lamanya suatu daerah tertentu di intertidal berada diudara terbuka dengan lamanya terendam air. Lamanya terkena udara terbuka merupakan hal yang sangat penting karena pada saat itulah organisme laut akan berada pada kisaran suhu terbesar dan kemungkinan mengalami kekeringan. Semakin lama terkena udara, semakin besar kemungkinan mengalami suhu letal atau kehilangan air diluar batas kemampuan. Kebanyakan hewan ini harus menunggu sampai air menggenang kembali untuk dapat mencari makan. Semakin lama terkena udara, semakin kecil kesempatan untuk mencari makan dan mengakibatkan kekurangan energi. Flora dan fauna intertidal bervariasi kemampuannya dalam menyesuaikan diri terhadap keadaan terkena udara, dan perbedaan ini yang menyebabkan terjadinya perbedaan distribusi organisme intertidal.

    Pengaruh kedua adalah akibat lamanya zona intertidal berada diudara terbuka. Pasang-surut yang terjadi pada siang hari atau malam hari memiliki pengaruh yang berbeda terhadap organisme. Surut pada malam hari menyebabkan daerah intertidal berada dalam kondisi udara terbuka dengan kisaran suhu relatif lebih rendah jika dibanding dengan daerah yang mengalami surut pada saat siang hari.
    Pengaruh pasang-surut yang lain adalah karena biasanya terjadi secara periodik maka pasang-surut cenderung membentuk irama tertentu dalam kegiatan organisme pantai, misalnya irama memijah, mencari makan atau aktivitas organisme lainnya.

    a. Biota pada zona intertidal

    Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian diadakan di pulau cruger yang pantai utaranya merupakan (freshwater) air tawar dan berbatu. Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang air tawar. Dilingkungan laut khususnya di intertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata.

    Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik bagi hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini.

    b. Pola adaptasi organism intertidal

    Bentuk adaptasi adalah mncakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.
    Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku.

    Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dngan kondisi lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi:

    1. Daya Tahan terhadap Kehilangan air
      Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air. Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon. Hewan-hewan tersebut memiliki bentuk morfologi seperti memiliki alat gerak yang baik untuk melakukan pergerakan yang cepat, serta struktur tubuh yang ditutupi oleh zat kapur yang cukup kuat.
    2. Pemeliharaan Keseimbangan Panas
      Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal. Contoh pada siput dan kerang-kerangan ketika pasang maka siput tersebut akan mengeluarkan badannya dari cangkang untuk melakukan aktivitas, sedangkan ketika keadaan surut yang mengakibatkan keberadaan siput tersebut terdedah dengan mendapatkan suhu lingkungan yang ekstrim, maka tubuhnya akan dimasukkan ke dalam cangkang, untuk tetap mempertahankan suhu tubuhnya yang stabil.
    3. Tekanan mekanik
      Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organism intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
    4. Pernapasan
      Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang. Contoh hewan ini adalah Bivalvia.
    5. Cara Makan
      Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
    6. Reproduksi
      Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.